Apakah keputusan itu terbaik untuku?

Apakah keputusan itu terbaik untuku?

Keputusan..
Setiap orang berhak atas setiap keputusan yang diambilnya. Banyak yang bimbang dan gelisah apabila keputusan itu menyangkut dirinya. Dalam kejanggalan itu akan banyak pula gangguan dan godaan untuk mengambil keputusan itu. Bimbang yang dialami, gelisah yang dialami akan mengikuti jejak langkah setiap orang yang memiliki hak atas keputusan. Terkadang sudah memutuskan itu terbaik untuk kita, tapi tidak untuk orang lain. Terkadang itu baik untuk orang lain tapi tidak untuk kita.

Gelisah bukan?

Pasti..

Namun jika seseorang memiliki rencana prinsip kehidupannya sendiri, hal yang mana membingungkan akan cepat terselesaikan begitu saja. Menyinggung polanpikir, banyak mereka yang tidak memikirkan kedepan, hanya ada rasa ingin cepat hal itu terjadi. Nyatanya setiap orang yang hidup, mengambil keputusan tidak semudah itu. Harus memiliki banyak pemikiran pendukungnya.

Hati-hati?

Harus…

Keputusan itu punya banyak makna dalam menunjang masa depan. Tinggal mana yang akan diambil yang menurutnya baik untuk diri sendiri dan orang lain. Dalam keputusan tidak bisa dipentingkan untuk diri sendiri. Namun, banyak orang yang tidak seperti itu. Ego akan mengalahkan segalanya apabila sudah ada hubungannya dengan money dan kesempatan. Kesempatan untuk diselingi dengan rasa was-was namun banyak mereka yang nyaman dalam keadaan itu. Membohongi diri sendiri bukan?

Itu pasti..

Diri sendiri adalah sosok yang terkadang kita tidak tau apa yang diinginkan. Namun, banyak yang terkalahkan dengan otak sebagai pemikiran secara logika. Tergantung masing-masing orang, lebih tenang membohongi diri sendiri atau terbelenggu dalam keinginan untuk keluar dari hal itu. Nyaris semua tak terpakai bila berurusan dengan hal kesuksesan. Banyak mereka yang mengejar penghasilan dan mengesampingkan hati dan rasa was-was yang tidak aman.

Bagaimana menurut kalian?

Bila tertekan dalam hal itu?

Jawaban ada dalam diri kalian masing-masing.

Logika bisa dipakai, tapi hati sudah ter setting dengan sendirinya apa yang dirasakannya. Kembali lagi pada keputusan. Resiko akan selalu ada, hambatan, tantangan, sudah pasti akan ikut bersamanya. Sempat berpikiran buntu. Terpenuhi dengan logika yang tak masuk akal. Pandai pandailah dalam mencernanya. Memikirkan masa yang akan terjadi atau lebih tepat dikatakan dengan akibat dari sebuah keputusan. Bertambah buruk atau bertambah baik. Nyaman atau gelisah. Bahagia atau terkekang. Aman atau was-was.

Apakah hidup seperti itu bisa tenang?

Tidak akan

Maka, pahamilah apa yang terjadi dalam diri sendiri. Pakailah hati dan logika yang seimbang. Masuk akal dan bisa diterima oleh hati. Hati bisa tersakiti karena logika, tapi logika akan tersingkirkan oleh hati dalam kejujuran.

Mau mencoba?

Sepertinya jangan.

Logika akan menerima dengan seiring waktu dengan keputusan dari hati. Memang, berpikir harus menggunakan logika, tapi sangat berpengaruh mana jika dibanding dengan hati yang tidak bisa membohongi diri sendiri. Manusiawi setiap orang pasti akan merasakan hal itu. Tergantung pada mereka menerimanya sebagai beban atau tujuan. Keputusan memang tak terasa jika kita tak memikirkannya dengan matang.

Turuti kata hatimu.

Bukan kata logikamu.

Kamu senang atau susah itu tergantung dari hati.

Banyak disana yang terkecoh dengan duniawi yang pada akhirnya hati tersakiti.

Bukan masalah sepele. Dan sebenarnya ini masalah masa depan.

Bahagiamu tergantung dengan hatimu dan keputusanmu.

Bukan dari gangguan, hambatan, atau pemikiran yang menginginkan semua hal secara instan.

Hatimu akan terus mengikutimu untuk tidak membohongi diri sendiri.

Dan logika untuk menyempurnakan atas apa yang diinginkan oleh hati….

Love story

Haiii…

Kembali lagi dengan sedikit cerita yang berbeda ya…

Biar gk terlalu serius gituhhh…

Aku mau sharing tentang asmara, yang pasti setiap orang merasakannya.

Aku adalah tipe orang yang dulunya anti sama laki laki. Karena menurutku mereka semuanya buaya. Mungkin anti sama cowok itu sekitar sampai Kelas 2 SMK.

Cuek?

Iya..

Dan tiap kali aku diajak chat atau nongkrong gitu, aku gk mau. Aku malu kalo dilihat orang sekitar. Dan aku gk suka jalan sama cowok. Tapi setelah aku mengenal seseorang yang bukan siapa siapa dalam hidupku. Eakkks.. Cowok itu beda banget sama dugaanku. Dia itu sangat menghargai wanita. Mau tanggung jawab. Rela ninggalin kopi saat nongkrong demi bantuin cewek karena motor mogok. Dan bahkan dibela belain buat nganter pulang aku sama temenku.

Gk banyak gaess yang kek gitu mah. Akutu suka heran kalo ngeliat dia. Dia juga pernah cerita tentang dia ditinggal sama si doi. Kok ada gitu cowok kek gitu ditinggal ceweknya. Dan aku berusaha untuk nenangin saat dia lagi galau tentang cewek.

Aku sempet kagum sama dia. Tapi ada sedikit rasa kurang setuju dengan pemikirannya. Kok malah bahas dia sihh.. Skip aja langsung tentang cerita aku yess..

Menurutku dari banyak cowok yang sudah aku amati. Aku bisa menyimpulkan bahwa aku ingin memiliki suami yang imannya kuat, sholeh, tinggi, sopan santun sama orang tua, penyayang, cool, adem kalo dilihat, bisa menuntunku kejalan yang benar, dan menegurmu saat aku salah arah, mau berkorban, sabar.

Kalo dilihat dari segi tipe, mungkin terlalu banyak, karena yang kek gitu gk banyak. Untuk masalah iman, aku juga sadar diriku sendiri. Kadang sholat aja males. Baca Al-qur’an juga jarang.

Dan untuk sekarang, aku ingin memperbaiki itu semua. Dan aku sudah mencoba untuk mendengarkan ceramah islam, sholawatan, tadarus juga alhamdulillah bisa khatam di bulan Ramadhan ini. Aku memiliki prinsip jika aku ingin memiliki calon imam dengan kriteria seperti itu aku harus bisa bercermin dan mau memperbaikinya.

Aku juga pernah jatuh hati pada seseorang dan aku terlalu cepat untuk jujur padanya. Itu adalah salah satu kelemahanku terkait dengan masalah hati. Setelah beberapa hari kemudian, aku sudah mengenal sikapnya yang menurutku tidak tanggung jawab. Memang benar dia penurut sama orang tua, tapi setidaknya dia juga harus menghargai seorang wanita. Kecewa terbesarku padanya salah satunya itu. Semakin hari sikapnya membuatku muak terhadapnya.

Dan setelah beberapa hari aku memutuskan untuk menjelaskan semuanya dan kita hanya sebatas teman. Oh ya sebelumnya itu keadaannya masih TTM belum ada status ya. Dia saat itu gk Terima sama keputusanku, tapi harus diterima apa adanya. Daripada aku gk jujur itu lebih menyakitkan untuknya dan tidak adil untuknya. Aku berusaha untuk menjaga jarak agar dia gk terlalu baper sama kesehariannya saat komunikasi denganku.

Tapi ya sudahlah itu sudah berlalu ya gk usah diungkit ungkit lagi. Yang namanya ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan mulai itulah sampai saat ini aku masih belum atau lebih tepatnya masih mengurung diri untuk tidak terlalu dekat dengan seorang laki laki. Kalau hanya sebatas teman ya wajar lah tapi juga harus tau batasannya.

Ceritaku cuma dikit sih masalah asmara. Ya mau gimana lagi aku gk punya banyak pengalaman. Kalo gk hati hati nanti bisa sakit hati zaman sekarang mah.

Okey,,

Sampai jumpa di cerita berikutnya..

Save me

Kosong..

Kosong..

Dan masih kosong..

Apa itu?

Pandangan itu yang selalu membuatku bisu akan sebuah kata. Yang membuatku lemah dalam melangkah. Yang membuatku gerak dalam diam. Bak mati rasa dalam diri ini. Kekosongan yang telah membelenggu ku dalam dunia ini.

Kapan ku akan keluar dari kurungan kehidupan seperti ini?? Kuingin merasakan hawa sejuk merembus hingga jiwaku. Indahnya melepas beban dalam diriku. Bebas dalam garis yang membatasi. Hingga ku tak mampu lagi berpikir secara normal. Hanya kata kosong yang menghantui jiwa ku saat ini.

Masih dengan pandangan itu. Ku berusaha untuk mengalihkannya. Ku berusaha untuk tak takluk pada hal bodoh yang sia sia.

Tapi ada satu yang membuatku bingung akan semua itu. Untuk apa aku terlalu hanyut dalam duniaku ini. Dunia yang penuh kekosongan. Dunia yang penuh rasa was was. Akankah aku harus melewatinya walau itu beresiko?

Dan itu aku harus melakukannya! Ku paksakan diriku untuk menghianati perasaan itu. Ku paksakan mengelabuhi nya dengan hal konyol yang membuatku gila. Ku paksakan diriku untuk berubah walaupun aku tidak seperti dulu lagi.

Mungkinkah itu akan terjadi?

Mungkin..!

Hatiku harus bahagia. Ku harus mengikhlaskan semuanya. Kuharus merdeka dalam duniaku. Aku adalah tokoh utama, dan orang lain hanya komentator yang tidak berfaedah sama sekali. Terkadang aku merasa bingung, dan hampir tidak mengetahui mengapa aku seperti ini. Sebenarnya apa yang aku pikirkan? Hal yang sudah lewat dan kenangan pahit yang terus saja menghantui itu sudah tiada.

Waktunya untuk memperbaiki diri. Aku tidak akan menjadi diriku yang dulu lagi. Aku aka menjadi sesosok aku yang berbeda dari sebelumnya. Walaupun aku tak menginginkannya. Terasa berat jika kita terlalu memaksa. Tapi harus bagaimana lagi, rasa yang ingin kuhilangkan, rasa yang ingin kubunuh dalam jiwa, dan rasa yang tidak mampu ku kelabuhi dengan angan-angan.

Diluar sana banyak mereka yang seperti itu, mereka lebih menyibukan diri dengan hal hal diluar akal pikiran. Bahkan mereka harus kehilangan akan identitas dirinya yang dulu. Seperti beban yang dibuang yang kembali lagi pada wadahnya. Sangat berat, karena kekosongan dalam jiwa seseorang akan membutakan segala hal yang dapat diterima akal manusia.

Haruskah aku seperti itu?

Sepertinya tidak

Karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Ku coba dan terus mencoba melupakan segalanya, tapi diri ini memang belum bisa memaafkannya. Dengan cara apalagi harus ku musnahkan perasaan membenci kan ini. Seperti orang gila semua hal kulakukan hingga orang disekitarku menganggap bahwa hidup ini sebuah drama. Dan aku hanya tokoh lemah dengan penuh kesedihan dan kekosongan.

Buruk..

Sangat sangat buruk…

Jerit ku untuk melupakan semuanya seketika membisu, bak disekap dalam sebuah tabung yang tak memiliki rongga. Ku tak bisa berkutik sama sekali. Ku coba lari dari semuanya, namun jalan itu lagi yang kutemui. Heyyy.. Ini bukan labirin saat kita tersesat. Ini hidup yang harus dijalani dan dilalui. Ini bukan drama sinetron yang bisa ditertawakan. Ini hidup. Sekali lagi kukatakan ini hidup. Siapapun yang hidup dalam dunia ini pasti memiliki masalah sendiri. Dan tugas kita harus bisa menyelesaikan dan mengakhiri masalah yang ada. Banyak orang yang tidak kuat dengan masalahnya sendiri. Banyak mereka yang lebih mengakhirinya dengan hal bodoh. Menyakiti diri sendiri. Membunuh sesama. Hingga merusak harga diri sendiri dan orang lain dengan tidak manusiawi. Akankah semuanya akan selesai begitu saja jika seperti itu? Tidak akan! Hal bodoh yang dilakukan akan semakin menyakitkan untuk mereka yang harus mempertanggung jawabkan. Kurasa diriku tak akan memilih cara seperti mereka. Aku adalah aku. Dan orang lain hanya sebagai penonton sebuah kisah kehidupan.

Tak peduli tetesan derasnya air mata yang mengalir. Kurasa itu sebuah tanda jika aku terlalu kuat untuk menutupinya. Dan dia kubiarkan terjatuh hingga saat ku tak mampu lagi.

Membahas soal kekosongan dalam hati dan diri seseorang. Terkadang saat kita diam pasti akan teringat sesuatu entah itu menyakitkan atau menyenangkan. Tetapi ku lebih teringat dengan hal buruk yang menyakitkan dalam hidupku. Dan aku tak tau mengapa aku terus berdiam dan hanya merasakan. Tidaklah ku ingin lari dari hal itu? Niatku ingin, tapi diriku belum mau melakukan. Mengapa aku ini? Terlalu naif jika ku bilang tidak sakit hati. Ya.. Aku sangat tersiksa dalam beban hidup seperti ini. Dan ku ingin membawa seseorang yang masih berharga menurutku untuk keluar dari dunia ini.

Adalah cara yang tepat untuku?

Jika ada, beritahu aku dan aku akan melakukannya. Tapi aku tidak menjanjikan diriku akan terlepas semuanya dari itu semua.

Kulihat banyak disekitarku tertawa lepas tanpa beban. Entah itu hanya sebuah fake atau original. Hanya diri sendiri yang tahu. Dan saat aku berusaha untuk fake smile didepan orang, mataku telah berbicara sendiri seakan mengungkapkan sakit yang ada dalam jiwa ku. Kutahan? Iya.. Selama ini aku menahannya. Dan selama ini belum ada yang mengerti keinginanku.

Tentang Rindu yang Berakhir dengan Takdir

Haii…..

Namaku park yeo jin

Ingin tau cerita hidupku??

Mungkin hidupku terlihat menyedihkan, tapi aku tau itu…

Aku dari keluarga yang sederhana, aku biasa dipanggil jun yeol dan ibuku suka memanggilku itu. Marga ku adalah park, dimana marga itu diambil dari marga ayahku bernama Park Ji hyun. Ibuku bernama ParYeo Ra, tapi sekarang ibuku telah pergi meninggalkanku karena Tuhan lebih menyayanginya daripada aku.

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adiku masih kelas 1 SMP dan mungkin dia belum tau apa apa tentang hidupku. Aku sudah bekerja diluar kota.

Oh ya..

Aku suka kpop dan kdrama. Bahkan aku pernah histeris saat melihat itu. Tapi itu dulu, dan sekarang berubah karena masalah yang mengikutiku setiap langkahku. Sejak ibuku meninggalkanku, hidupku terasa sepi, sunyi dan kosong. Pernah aku menyerah saat menghadapi masalah hidupku. Tapi aku harus tau, jika aku masih punya adiku yang harus aku perjuangkan.

Aku memang anak yang suka mengalah pada orang tua dan menahan setiap rasa sakitku saat ada masalah dengan ayahku. Aku sudah berusaha untuk lebih tenang, tenang, dan tenang. Tapi, semuanya sia sia.

Mengapa??

Karena seseorang yang masih kumiliki benar benar tidak mengasihiku dan memahamiku seperti yang ibu dulu lakukan.

Aku tidak mau menjadi anak durhaka, dan aku harus tau itu tidak benar. Aku ingin semuanya berlalu dengan akhir yang bahagia. Dimana aku mengenal orang yang baru dalam hidupku, dan orang itu bisa menggantikan posisi ibuku dulu. Tapi..

Aishh…

Mengapa aku selalu menghayal jika itu akan nyata? Buktinya saja setiap ada orang asing dirumahku, aku merasa benci dan dendam dengan orang itu. Itu artinya aku belum bisa mengikhlaskan kepergian ibuku.

Aku tertekan.

Aku takut.

Aku khawatir.

Jika wanita itu tidak akan melakukan apa yang menjadi kewajibannya pada keluarga barunya nanti, yang mungkin akan menjadi bagian dalam keluargaku. Bukan diriku sendiri yang aku takutkan. Tapi adiku, dia belum tau apa apa tentang hal itu. Dia masih polos, dan aku takut jika kelak aku kerja terus menerus diluar kota, dia akan sendirian. Dan mungkin ibu baruku akan menelantarkan nya.

Aku benci hal seperti ini!!

Aku tidak sanggup membiarkan adiku sendirian dan dapat dipastikan ayahku akan mementingkan keluarga barunya itu dibanding adiku nanti. Sempat aku memikirkan, jika aku kerja keluar kota, aku akan mengajak adiku hidup bersamaku. Tapi, bagaimana aku akan menjalani hidup seperti itu? Seperti lelucon bukan? Seperti seorang raja yang diusir dari kerajaannya sendiri.

Hufftt…

Tuhan…

Berikan aku kekuatan, tabahkan diriku, lindungi adiku yang ada disana sendiri.

Ku rindu mereka yang sangat berharga dalam hidupku. Ku rindu akan ocehan ocehan yang kututurkan setiap hari dengan adiku. Ku rindu canda tawa yang ku ukir dengan adiku. Ku rindu dia menangis karena sesuatu yang hilang. Ku rindu karena dia selalu Masayuki setiap ada maunya. Aku juga rindu ibuku yang selalu memberikan aku senyuman tiap pagi. Aku rindu ibuku yang selalu memarahiku setiap dia merasa jengkel denganku. Aku rindu dengan ibuku yang selalu menangis karena bangga dengan diriku.

Aku rinduu itu semua…

Kemana itu semua menghilang??

Kapan aku akan kembali seperti itu lagi??

Mengapa semua kisah yang pernah ku ukir sederhana hilang begitu saja..

Hahhhh!!!

Tapi tak apa, aku harus bisa mengikhlaskan semua itu. Aku bisa membuka lembaran baru dengan mengubah itu semua. Aku akan berada disisi adiku walaupun adiku tidak meminta itu. Aku janji, dia tidak akan kesepian.

Semua yang menjadi beban dalam hidupku ku lampiaskan dengan semua hobi yang kumiliki. Aku menari, aku bernyanyi, aku menangis dalam sunyi, dan kadang aku tertawa tanpa sebab.

Apakah aku telah frustasi?

Kurasa memang benar..

Tapi aku masih bisa menahan emosiku saat ku lepas kendali. Ku mencoba untuk sabar dan bertindak. Ku abaikan mereka yang mengomel tanpa manfaat yang hanya mencibir ku. Mereka begitu, karena mereka belum pernah merasakan hidup di posisiku saat ini.

Kumaafkan mereka yang hanya mencibir ku dan lalu meminta bantuan terhadapku karena sebab. Terkadang adiku juga pernah dihina mereka, dan aku hanya melapangkan dada dan membuat adiku tetap sabar. Aku memberikan motivasi untuknya. Aku berusaha membuat adiku memjadi anak yang kuat, jika ditiup angin bahkan badai telah menerjang hidup.

Aku akan membuat hidupku dan adiku jauh lebih indah dari ini. Aku akan mengeluarkan diriku dan adiku dari dunia gelap ini. Dan aku benci ini! Aku harus bisa keluar dari masalah ini. Dan aku akan melangkah lebih maju dari sebelumnya.

Oh yaa..

Aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang dancer dan sutradara. Dan mungkin itu efek aku terlalu banyak melihat kpop dan k-drama. Dan itu menurutku tidak ada salahnya, karena aku mendapatkan pengaruh positif dari hal itu.

Semoga saja itu tidak angan angan belaka, dan semoga itu pasti, karena ku tahu takdir bisa diubah mulai detik ini juga dengan kita bertindak cepat dan tepat.

Semangatttt!!!!

Aku pasti bisa!!!