Kosong..
Kosong..
Dan masih kosong..
Apa itu?
Pandangan itu yang selalu membuatku bisu akan sebuah kata. Yang membuatku lemah dalam melangkah. Yang membuatku gerak dalam diam. Bak mati rasa dalam diri ini. Kekosongan yang telah membelenggu ku dalam dunia ini.
Kapan ku akan keluar dari kurungan kehidupan seperti ini?? Kuingin merasakan hawa sejuk merembus hingga jiwaku. Indahnya melepas beban dalam diriku. Bebas dalam garis yang membatasi. Hingga ku tak mampu lagi berpikir secara normal. Hanya kata kosong yang menghantui jiwa ku saat ini.
Masih dengan pandangan itu. Ku berusaha untuk mengalihkannya. Ku berusaha untuk tak takluk pada hal bodoh yang sia sia.
Tapi ada satu yang membuatku bingung akan semua itu. Untuk apa aku terlalu hanyut dalam duniaku ini. Dunia yang penuh kekosongan. Dunia yang penuh rasa was was. Akankah aku harus melewatinya walau itu beresiko?
Dan itu aku harus melakukannya! Ku paksakan diriku untuk menghianati perasaan itu. Ku paksakan mengelabuhi nya dengan hal konyol yang membuatku gila. Ku paksakan diriku untuk berubah walaupun aku tidak seperti dulu lagi.
Mungkinkah itu akan terjadi?
Mungkin..!
Hatiku harus bahagia. Ku harus mengikhlaskan semuanya. Kuharus merdeka dalam duniaku. Aku adalah tokoh utama, dan orang lain hanya komentator yang tidak berfaedah sama sekali. Terkadang aku merasa bingung, dan hampir tidak mengetahui mengapa aku seperti ini. Sebenarnya apa yang aku pikirkan? Hal yang sudah lewat dan kenangan pahit yang terus saja menghantui itu sudah tiada.
Waktunya untuk memperbaiki diri. Aku tidak akan menjadi diriku yang dulu lagi. Aku aka menjadi sesosok aku yang berbeda dari sebelumnya. Walaupun aku tak menginginkannya. Terasa berat jika kita terlalu memaksa. Tapi harus bagaimana lagi, rasa yang ingin kuhilangkan, rasa yang ingin kubunuh dalam jiwa, dan rasa yang tidak mampu ku kelabuhi dengan angan-angan.
Diluar sana banyak mereka yang seperti itu, mereka lebih menyibukan diri dengan hal hal diluar akal pikiran. Bahkan mereka harus kehilangan akan identitas dirinya yang dulu. Seperti beban yang dibuang yang kembali lagi pada wadahnya. Sangat berat, karena kekosongan dalam jiwa seseorang akan membutakan segala hal yang dapat diterima akal manusia.
Haruskah aku seperti itu?
Sepertinya tidak
Karena aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri. Ku coba dan terus mencoba melupakan segalanya, tapi diri ini memang belum bisa memaafkannya. Dengan cara apalagi harus ku musnahkan perasaan membenci kan ini. Seperti orang gila semua hal kulakukan hingga orang disekitarku menganggap bahwa hidup ini sebuah drama. Dan aku hanya tokoh lemah dengan penuh kesedihan dan kekosongan.
Buruk..
Sangat sangat buruk…
Jerit ku untuk melupakan semuanya seketika membisu, bak disekap dalam sebuah tabung yang tak memiliki rongga. Ku tak bisa berkutik sama sekali. Ku coba lari dari semuanya, namun jalan itu lagi yang kutemui. Heyyy.. Ini bukan labirin saat kita tersesat. Ini hidup yang harus dijalani dan dilalui. Ini bukan drama sinetron yang bisa ditertawakan. Ini hidup. Sekali lagi kukatakan ini hidup. Siapapun yang hidup dalam dunia ini pasti memiliki masalah sendiri. Dan tugas kita harus bisa menyelesaikan dan mengakhiri masalah yang ada. Banyak orang yang tidak kuat dengan masalahnya sendiri. Banyak mereka yang lebih mengakhirinya dengan hal bodoh. Menyakiti diri sendiri. Membunuh sesama. Hingga merusak harga diri sendiri dan orang lain dengan tidak manusiawi. Akankah semuanya akan selesai begitu saja jika seperti itu? Tidak akan! Hal bodoh yang dilakukan akan semakin menyakitkan untuk mereka yang harus mempertanggung jawabkan. Kurasa diriku tak akan memilih cara seperti mereka. Aku adalah aku. Dan orang lain hanya sebagai penonton sebuah kisah kehidupan.
Tak peduli tetesan derasnya air mata yang mengalir. Kurasa itu sebuah tanda jika aku terlalu kuat untuk menutupinya. Dan dia kubiarkan terjatuh hingga saat ku tak mampu lagi.
Membahas soal kekosongan dalam hati dan diri seseorang. Terkadang saat kita diam pasti akan teringat sesuatu entah itu menyakitkan atau menyenangkan. Tetapi ku lebih teringat dengan hal buruk yang menyakitkan dalam hidupku. Dan aku tak tau mengapa aku terus berdiam dan hanya merasakan. Tidaklah ku ingin lari dari hal itu? Niatku ingin, tapi diriku belum mau melakukan. Mengapa aku ini? Terlalu naif jika ku bilang tidak sakit hati. Ya.. Aku sangat tersiksa dalam beban hidup seperti ini. Dan ku ingin membawa seseorang yang masih berharga menurutku untuk keluar dari dunia ini.
Adalah cara yang tepat untuku?
Jika ada, beritahu aku dan aku akan melakukannya. Tapi aku tidak menjanjikan diriku akan terlepas semuanya dari itu semua.
Kulihat banyak disekitarku tertawa lepas tanpa beban. Entah itu hanya sebuah fake atau original. Hanya diri sendiri yang tahu. Dan saat aku berusaha untuk fake smile didepan orang, mataku telah berbicara sendiri seakan mengungkapkan sakit yang ada dalam jiwa ku. Kutahan? Iya.. Selama ini aku menahannya. Dan selama ini belum ada yang mengerti keinginanku.